Apa yang saya dapat di hari sabtu…

Hari Sabtu kemaren adalah hari Sabtu yang lumayan padat bagi gw,padat dengan kegiatan yang insyaAllah bermanfaat, dibanding hari hari Sabtu lain yang biasanya gw habisin dengan berinternet ria di kosan.๐Ÿ˜› Jadwal pertama gw adalah les bahasa inggris di NF sampai kira-kira jam 1 siang, habis itu ke FIB buat mengikuti Festival Wajah Muslim Indonesia (FWMI) yang diadain sama SALAM UI, dan sorenya gw habiskan dengan jalan-jalan sore sekalian belanja keperluan hidup (anak kost banget dah..๐Ÿ˜€ ).

Dari semua kegiatan di atas, adalah salah satu rangkaian acara di FWMI yang bikin gw sedikit merenung (ehem…๐Ÿ˜€ ) dan mengingatkan gw (lagi…lagi..dan lagi….) akan betapa mudahnya gw berprasangka dan juga betapa sombongnya seorang ‘gw’.๐Ÿ˜ฆ .It’s not a beautiful truth to be told ,,but still have to be written, supaya menjadi pengingat bagi gw atas segala kehinaan yang harus diperbaiki. Harus diperbaiki. Kita hidup untuk belajar bukan?? Hehe

Nah,peristiwa yang menggelitik nurani itu adalah ketika setelah talkshow ,yang isinya InsyaAllah akan gw review di tulisan lain, ada penampilan hiburan oleh band,yep sebuah band dan bukan nasyid. Nama band ini adalah ‘Punk Moslem’ dan personil nya kliatan ga jauh beda sama penampilannya Kangen Band,ST 12,Ungu dan konco2 band alay lainnya. Dan hati kecil gw yang rupanya belum juga belajar berguman,”He??Apa2n ini??Band kok pake nama Moslem segala?? Mana ada kata ‘Punk’nya lagi dan penampilannya aja ga ada menyerupai sedikit pun orang yang mengikuti sunnah (di bagian ini rupanya gw lupa ngaca,ngliat ndiri sendiri…).Paling ini kaya band2 Indonesia lainnya,aji mumpung ikut2an nyanyi lagu2 yang katanya “Islami” padahal gaya hidupnya sama sekali ga Islami. Ga worthed ah buat ditonton”. Begitulah yang langsung terpikir begitu melihat penampilan awal teman2 di band PUnk Moslem ini. Gw udah mau berdiri mau ninggalin ruangan,tapi teman2 gw yang lain bertahan pengen lihat bentar jadilah gw juga ‘terpaksa’ ikut nonton.

Dan sungguh Allah Maha Kuasa untuk mengingatkan gw dengan berbagai cara (Subhanallah, Engkau masih berkenan menegur hamba hina ini ya Allah,,Alhamdulillah….). Sesaat sebelum tampil, ada cuplikan video profil dari band tersebut diiringi sepatah kata pembuka dari personilnya, dan itulah yang membuat gw malu telah berprasangka pada mereka. Astagfirullah,astaghfirullah,astaghfirullah….

Yah, niat di hati hanya Allah yang Maha Mengetahui dan gw dengan sombongnya menghakimi orang lain dari hanya apa yang terlihat oleh mata minus ini. Maksud gw, penampilan yang terlihat bukanlah dasar yang kuat untuk menghakimi orang lain dan apa yang gw ketahui dan siapa gw untuk meragukan niat mereka.

Di sinilah gw merasa bersikap sangat sombong pada orang lain. Lagipula,jika gw sedikit lebih bijak hari itu, teman2 dari Punk Moslem mungkin ga jauh beda dengan gw,bahwa mungkin mereka sama2 hamba yang tersadar bahwa mereka tak mau lagi hidup dalam kehinaan dan sebisa mungkin ingin mendekatkan diri pada Pencipta-nya. Yah,mungkin caranya berbeda dengan yang gw lakukan tapi itu bukan salah mereka juga kan? Dari apa yang mereka bilang, mereka adalah teman2 yang kurang beruntung yang harus tumbuh dalam kerasnya perjuangan di jalanan ibukota. Apa yang udah mereka jalani pasti berbeda dengan apa yang udah gw jalani, dan dengan latar belakang mereka yang seperti itu pasti juga ga mudah bagi mereka untuk memulai langkah baru dalam hidup mereka. Pasti banyak tantangan yang mereka hadapi begitu memutuskan untuk melakukan apa yang mereka lakukan sekarang,berdakwah dengan musik punk, dan sangat tidak adil bagi mereka jika gw mengharapkan mereka tampil layaknya ikhwan ikhwan aktivis Lembaga Dakwah Kampus yang memenuhi ruangan itu ataupun menuntut mereka untuk tampil sempurna karena sudah mengaku sebagai Muslim.

Yah,yang gw jelasin barusanpun adalah prasangka, tapi sebuah prasangka dari sisi yang berbeda, sebuah prasangka yang bersumber dari kerendahan hati, sebuah prasangka yang tidak dibutakan kesombongan, sebuah prasangka yang akan meringankan hati, sebuah prasangka yang tidak menghakimi,sebuah prasangka yang memberi kesempatan, sebuah prasangka yang memberikan harapan, sebuah prasangka yang harus menjadi satu2nya prasangka yang gw rasakan,,, husnuzan .

Yah,dari pengalaman hari itu gw sadar betapa gw masih berjalan dalam kesombongan dan gw belajar bahwa prasangka baik itu bukanlah naif. Dan semoga dari postingan kali ini akhirnya gw bisa diingatkan untukย  bisa menjadi orang yang tidak sombong dan selalu berprasangka baik.Amin ya Rabb.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s