“Ikhlaskah Kita?”

Ramai orang berbicara tentang IKHLAS disekitar kita. Beberapa ada yang memahami secara nyata namun tidak sedikit pula yang belum memahami hakikat dari ikhlas. [gw yakin gw salah satunya,makanya gw posting artikel ini🙂 ]. Sebagai contoh, seseorang yang menerima pemberian dari orang lain seringkali berkata: ” Apakah kamu ikhlas memberikan ini semua padaku?” maka dijawab pula oleh yang memberikan: “Ya, saya ikhlas memberikan itu kepadamu”. Ternyata di kemudian hari ketika terjadi permasalahan diantara mereka berdua maka, diungkitlah semua yang pernah diberikannya. Peristiwa semacam ini tidak sedikit kita temui dalam kehidupan yang nyata. [exactly…]. Marilah dikesempatan ini kita mencoba untuk memahami ikhlas lebih dalam lagi melalui tulisan yang singkat ini. Semoga bermanfaat bagi kita semua,

Apa itu Ikhlas?

Banyak tulisan para ulama yang membahas keterkaitan antara niat dan ikhlas. Tidak hanya satu,dua, bahkan ribuan risalah yang membicarakan akan pentingnya mengikhlaskan niat. Di dalam al-qur’an Allah subhanahu wa Ta’ala juga menyebutkan tentang ikhlas ini di dalam beberapa ayat, diantaranya adalah sebagai berikut:

Maka sembahlah Allah dengan mengikhlaskan agama kepada-Nya.” (Qs Az Zumar:2)

“Dan tidaklah kalian diperintahkan kecuali untuk menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam menjalankan agama yang lurus dan mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (Qs Al-Bayyinah:5)

Dari dua ayat di atas menunjukkan betapa pentingnya keikhlasan tersebut. Namun, apakah sesungguhnya makna dari ikhlas itu sendiri?

Ma’asyiral ikhwah,yang dimaksud dengan keikhlasan adalah ketika engkau menjadikan niatmu dalam menjadikan niatmu dalam melakukan suatu amalan hanyalah karena Allah semata, engkau melakukannya bukan karena selain Allah, bukan karena riya (ingin dilihat oleh manusia) ataupun sum’ah (ingin didengar manusia), bukan pula karena engkau ingin mendapatkan pujian serta kedudukan yang tinggi di antara manusia, dan juga bukan karena engkau tidak ingin dicela oleh manusia. Apabila engkau melakukan suatu amalan hanya karena Allah semata bukan karena kesemua hal tersebut, maka ketahuilah saudaraku, itu berarti engkau telah ikhlas. Fudhail bin Iyadh berkata, “Beramal karena manusia adalah syirik, meninggalkan amal karena manusia adalah riya.”

Dalam Hal Apa Kita Harus Ikhlas?

Ma’asyiral ikhwah, sebagian manusia menyangka bahwa yang namanya keikhlasan itu hanya ada dalam perkara-perkara ibadah semata seperti sholat,puasa,zakat,membaca al-qur’an, haji dan amal-amal ibadah lainnya. Namun ketahuilah bahwa keikhlasan harus ada pula dalam amalan-amalan yang berhubungan dengan muamalah. Ketika engkau tersenyum terhadap saudaramu, engkau harus ikhlas. Letika engkau mengunjungi saudarimu, engkau harus ikhlas. Ketika engkau meminjamkankan saudaramu barang yang dia butuhkan, engkau pun harus ikhlas. Tidaklah engkau lakukan itu semua kecuali semata-mata karena Allah, engkau tersenyum kepada saudaramu bukan karena agar dia berbuat baik kepadamu, tidak pula engkau pinjamkan atau membantu saudaramu agar kelak suatu saat nanti ketika engkau membutuhkan sesuatu maka engkau pun akan dibantu olehnya atau tidak pula karena engkau takut dikatakan sebagai orang yang pelit. Tidak wahai saudaraku, jadikanlah semua amal tersebut karena Allah semata.

Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: ” Ada seorang laki-laki yang mengunjungi saudaranya di kota lain, maka Allah mengutus malaikat di perjalannya, ketika malaikat itu bertemu dengannya, malikat itu bertanya, “Hendak ke mana engkau?” maka dia pun berkata “Aku ingin mengunjungi saudaraku yang tinggal di kota ini”. Maka malaikat itu kembali bertanya “Apakah engkau memiliki suatu kepentingan yang menguntungkanmu dengannya?” orang itu pun menjawab: “Tidak, hanya saja aku mengunjunginya karena aku mencintainya karena Allah, malaikat itu pun berkata “Sesungguhnya aku adalah utusan Allah untuk mengabarkan kepadamu bahwa Allah mencintaimu sebagaimana engkau mencintai saudaramu itu karena-Nya”. (HR Muslim)

Perhatikanlah hadist ini wahai saudaraku, tidaklah orang ini mengunjungi saudaranya tersebut kecuali hanya karena Allah, maka sebagai balasannya, Allah pun mencintai orang tersebut. Tidakkah engkau ingin dicintai oleh Allah wahai saudaraku?

Dalam hadist lain, Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah engkau menafkahi keluargamu yang dengan perbuatan tersebut engkau mengharapkan wajah Allah, maka perbuatanmu itu akan diberi pahala oleh Allah, bahkan sampai sesuap makanan yang engkau letakkan di mulut istrimu.” (HR Bukhari Muslim)

Renungkanlah sabda beliau ini wahai saudaraku, bahkan hanya dengan sesuap makanan yang seorang suami letakkan di mulut istrinya, apabila dilakukan ikhlas karena Allah, maka Allah akan memberikannya pahala. Bagaimana pula dengan pengabdian seorang istri terhadap suaminya yang dilakukan  ikhlas karena Allah? Bagaimana pula dengan mahasiswa yang pergi ke kampus dengan ikhlas karena Allah? Bagaimana dengan satpam yang bertugas ikhlas karena Allah? Bukankah itu semua akan mendapat ganjaran dan balasan pahala yang besar disisi Allah? Sungguh merupakan suatu keberuntungan yang amat sangat besar seandainya kita dapat menghadirkan keikhlasan dalam seluruh gerak-gerik kita.

Balasan Amalan Ringan Yang Disertai Keikhlasan

Saudaraku yang semoga dicintai oleh Allah, sesungguhnya yang diwajibkan dalam amal perbuatan kita bukanlah banyaknya amal namun tanpa keikhlasan. Amal yang dinilai kecil di mata manusia, apabila kita melakukannya ikhlas karena Allah, maka Allah akan menerima dan melipatgandakan pahala dari amal tersebut. Abdullah bin Mubarak berkata, “Betapa banyak amalan yang kecil menjadi besar karena niat (yang ikhlas), dan berapa banyak pula amal yang besar menjadi kecil karena niat (yang tidak ikhlas).”

Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Seorang laki-laki melihat dahan pohon di tengah jalan, ia berkata:Demi Allah aku akan singkirkan dahan pohon ini agar tidak menganggu kaum muslimin, MAka ia pun masuk surga karenanya”. (HR. Muslim)

Lihatlah wahai saudaraku, betapa kecilnya amalan yang dia lakukan, namun hal itu sudah cukup bagi dia untuk masuk surga karenanya. Dalam hadist lain Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Dahulu ada seekor anjing yang berputar-putar mengelilingi sumur, anjing tersebut hampir-hampir mati karena kehausan, kemudian hal tersebut dilihat oleh salah seorang pelacur dari Bani Israil, ia pun mengisi sepatunya dengan air dari sumur dan memberikan minum kepada anjing tersebut, maka Allah pu mengampuni dosanya.” (HR Bukhari Muslim)

Subhanallah, sorang pelacur diampuni dosanya oleh Allah hanya karena memberi minum seekor anjing,betapa remeh perbuatannya di mata manusia, namun dengan hal itu Allah mengampuni dosa-dosanya. Maka bagaimanakah pula apabila seandainya yang dia tolong adalah seorang muslim? Dan sebaliknya, wahai saudaraku, amal perbuatan yang besar nilainya, seandainya dilakukan tidak ikhlas, maka hal itu tidak akan berfaedah baginya. Dalam sebuah hadist dari Abu Umamah Al-Bahili, dia berkata: Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah an bertanya :” Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang berperang untuk mendapatkan pahala dan agar dia disebut-sebut oleh orang lain?” maka Rasulullah pun menjawab: “Dia tidak mendapatkan apa-apa.” Kemudian beliau berkata: “Sesungguhnya Allah tidak akan menerima suatu amalan kecuali apabila amalan itu dilakukan ikhlas karenanya.” (HR. Abu Daud dan Nasai). Dalam hadist ini dijelaskan bahwa seseorang yang dia berjihad-suatu amalan yang sangat besar nilainya-namun dia tidak ikhlas dalam amal perbuatannya tersebut,maka dia pun tidak mendapatkan balasan apa-apa.

Penutup

Untuk mengakhiri pembahasan yang singkat ini, maka kami akan membawakan buah yang akan didapatkan oleh orang yang ikhlas. Seseorang yang telah beramal ikhlas karena Allah (di samping amal tersebut harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam), maka keikhlasannya tersebut akan mampu mencegah setan untuk menguasai dan menyesatkannya. Allah berfirman tentang perkataan iblis la’natullah’alaihi yang artinya:

Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, Kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas dia ntara mereka.” (Qs. Shod:82-83)

Inilah diantara buah keikhlasan yang akan diperoleh bagi mereka yang ikhlas dalam setiap langkahnya dikehidupan yang hanya sebentar ini.

Semoga Allah senantiasa membimbing kita menjadi jiwa yang ikhlas dalam menjalani kehidupan dunia yang fana ini. Semoga kita tetap berpegang teguh dengan Islam sehingga ajal datang menjemput. [Amin ya robbal alamin..]

Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam, para sahabatnya, keluarganya dan orang-oorang yang istiqomah dalam mengikuti risalah beliau yang haq.

Wassalamualaikum,

Al-Faqir Illallah, Fahamsyah Hamdan.

Tulisan ini yang sempat bikin gw sedikit merenung sehabis shalat Jum’at kemarin di Teknik. Artikel ini gw dapat dari Selembar Madani, edisi 3 tahun 04 april 2009, rabiul awal terbitan SALAM UI X2… (wuiiih..lengkap banget dah…). Tulisan buah tangan akhi Fahamsyah Hamdan yang penuh hikmah ini gw rasa bakal jadi pengingat yang bagus buat gw sndiri dan rasanya juga agak egois kalo gw simpan sendiri di kumpulan buletin2 Jum’at gw. Semoga bermanfaat, dan mudah2n yang nulis ga keberatan gw posting tulisannya di blog ini.Jazakallah akhi.. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s